Fog Over The Bay photo by Axel Antas-Bergkvist (@abl) on Unsplash

Jembatan Indah di Indonesia dan Sejarahnya Perlu Kamu Tahu

Jembatan adalah salah satu karya cipta manusia dalam bidang arsitektur.

Pengertian jembatan di atas adalah pengertian secara umum, ya…

Lalu bagaimanakah pengertian jembatan secara ilmiahnya?

Yuk disimak pengertian jembatan menurut para ahli. Salah satu ahlinya adalah Struyk dan Veen. Pengertian Jembatan menurut Beliau sebagai berikut:

Jembatan adalah suatu konstruksi yang gunanya meneruskan jalan melalui suatu rintangan yang berada lebih rendah. Rintangan ini biasanya jalan lain berupa jalan air atau lalu lintas biasa. Jembatan yang berada diatas jalan lalu lintas
biasanya disebut viaduct.

Jembatan dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Jembatan tetap.
2. Jembatan dapat digerakkan.

Kedua golongan jembatan tersebut dipergunakan untuk lalu lintas kereta api dan
lalu lintas biasa ( Struyk dan Veen, 1984).

Nah sudah makin jelas kan dengan pengertian jembatan yang sesuai dengan pemahaman para ahli di bidangnya. Tapi, intinya sih, jembatan merupakan bangunan yang dibuat khusus untuk menghubungkan dua area atau daerah dan atau wilayah yang bersebrangan

Kata jembatan ini banyak sekali penyebutannya.

Berbanding lurus dengan kekayaan suku dan budaya, Negeri yang terdiri atas pulau-pulau ini pun punya banyak bahasa.

Begitu pula dengan penamaan atau penyebutan nama suatu benda. Boleh jadi ada yang sama, bisa juga ada yang beda.

Nah, berikut ini adalah nama dan jenis-jenis jembatan menurut bahasa daerah di Indonesia dan yang dimaksud adalah bahasa NGAPAK seperti apa bentuknya.

-1. Brug-

Brug adalah salah satu kata lain dari JEMBATAN.
Kata “Brug” sendiri umumnya tersebar di daerah Brebes-Tegal.

Konon, katanya…

Brug diambil dari bahasa Belanda yaitu Brug yang memang artinya adalah JEMBATAN.

Kata Brug ini bisa kamu jumpai di daerah berbahasa NGAPAK yaitu Tegal dan Brebes.

Jadi jika kamu nanya alamat pada orang Tegal-Brebes kemudian mereka mengucapkan kata BRUG, itu artinya dan maksudnya adalah jembatan.

 

“Jika kamu pernah dengar nama actor yang ada kata Brug-nya itu mungkin dia lahir di jembatan atau orang tuanya mendoakan agar anaknya kelak dapat menghubungkan 2 perbedaan (kira-kira aja sih)” 🙂 😀

 

Oke, balik lagi ke pembahasan…

Kata Brug sendiri masih ada dua cabang yaitu Brug (itu sendiri) yang berarti jembatan penyebrangan dapat dilalui dua jalur yang bersimpangan dengan kolong yang luas (menyesuaikan sungai atau lembah dibawahnya).

Ada juga Brug yang kecil yang kolongnya sangat sempit dan seperti gorong-gorong. Secara keseluruahn jembatan ini biasanya difungsikan sebagai saluran air tersier yang lebih kecil. Bahkan, sangkin kecilnya (pipa gorong-gorong) jembatan ini hanya bisa memuat 1 ekor anak kambing.

Brug seperti ini biasa disebut BRUG SULING.

-2. Plowotan-

Plowotan sebenarnya juga sama dengan jembatan tapi umumnya plowotan ini (jembatan) terbuat dari bambu yang disusun memanjang dan tidak dipotong pendek, tetapi dibiarkan utuh.

Selain terbuat dari bambu, batang pohon lainnya pun bisa digunakan. Misalnya, Glugu (Batang pohon kelapa).

Plowotan (jembatan kecil) dari bambu yang disusun berbanjar. Image source instagram @tasronilendunk

Secara fisik, Plowotan ini hanya bisa dilalui beberapa orang saja. Jadi tidak bisa digunakan untuk arah berlawanan.

Kalaupun bisa digunakan secara berlawanan, ya, harus berdesak-desakan sambil harap-harap cemas lawan nyebrang kamu tidak nyenggol. Hehehe… 😛

Nah, itu tadi adalah nama dan jenis-jenis jembatan di Indonesia, khusus di daerah berbahasa ngapak Tegal-Brebes.

Sekarang silahkan kamu ambil selembar kertas dan pulpen dan coba sebutkan jenis-jenis jembatan di daerah kamu yang unik dan menarik.

Sambil ngeling-eling (mengingat-ingat) nama jembatan sesuai dengan daerah kamu, teruskan saja baca artikel tentang jembatan di Indonesia dan sejarahnya yang indah ini sampai habis supaya sukses wawasan dan tidak gagal paham.

-Jembatan Suramadu-

Mestinya, orang se-jagad Jawa dan Madura tahu pasti yang disebut dengan JEMBATAN SURAMADU.

Jembatan Suramadu adalah jembatan yang menghubungkan Surabaya (Ibu Kotanya Jawa Timur) dengan pulau Madura.

Jembatan ini mempertegas kinclongnya Indonesia dari segi arsitek.

Bahkan dari segi wisata, Bapak 1 anak ini rela lari maraton di jembatan Suramadu ini.

Jembatan Suramadu diwarnai kontroversi.

Kok, bisa?

Ya bisa, lah…! Karena jembatan ini nyaris dianggap tidak mungkin dapat dibangun menurut para ilmuwan dari Jepang dan Cina. Mereka beralasan bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak titik pusat gempa dan memiliki jalur patahan yang banyak pula.

Memang, alasan para ilmuwan tersebut ada benarnya apalagi jika klepusher flashback ke pelajaran GEOGRAFI, mudah-mudahan ingat bahwa negara kita dihimpit oleh 2 lempeng benua dan lempeng samudra yang efeknya, negeri kita memiliki stock gunung berapi yang banyak dan kapan saja bisa boommmm, meletus…!

Apapun resikonya, yang jelas Jembatan ini bukan sekedar plowotan seperti yang disebutkan dalam muqodimah di awal.

Jembatan Suramadu ini memiliki panjang 5,438 meter yang terbagi menjadi 3 bagian.

Jembatan ini bukan hanya jembatan terpanjang di Indonesia tapi dinobatkan juga sebagai jembatan terpanjang se-asia tenggara. uwowwww…! :O

 

-Jembatan Ampera-

Meskipun jembatan yang satu ini kalah panjangnya dengan Jembatan Suramadu tapi sejarah yang mewarnai jembatan ini sangat indah.

Jembatan Indah di Indonesia dan Sejarahnya
Kemegahan Jembatan Ampera pada malam hari. image source: triptrus.com

Siapa yang tidak kenal dengan tokoh Proklamator Repbulik Indonesia ini..? Ya, Beliaulah ir. Soekarno, proklamir dan presiden pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Berdiri kokoh di atas sungai Musi sepanjang 1.117 meter. Jembatan penuh sejarah ini membentang dari Seberang Ulu dan Seberang Ilir.

Modal awal untuk membangun jembatan Ampera kala itu hanya Rp. 30.000,00 saja. Untungnya, setelah dibentuk panitia khusus dan kemudian rencana pembangunan jembatan ini diajukan ke Presiden Soekarno. Sukses menuai hasil, Sang Presiden pun menyetujui proyek tersebut.

Tahukah kamu bahwa biaya pembangunan Jembatan Ampera ini diambil dari danam pampasan perang Jepang. Pampasan perang yaitu pembayaran dilakukan oleh suatu negara yang kalah perang kepada pihak yang memenangi perang sebagai ganti atas kerugian materi.

Biaya pembangunan kala itu (dari hasil pampasan perang jepang) sebesar USD 4.500.000 dan pada saat itu kurs rupiah terhadap dolar Rp. 200,00 = 1,00 USD. Jadi, totalnya adalah Rp. 900.000.000,00

Jembatan Ampera pada saat itu dinobatkan sebagai jembatan terpanjang pertama yang berada di kawasan Asia Tenggara. Rekor ini kemudian dipatahkan oleh jembatan terpanjang se-Asia Tenggara berikutnya yaitu Jembatan Suramadu.